Sabtu, 10 Maret 2012

Puisi lama



UNTUK Putri (tidak perlu dirubah sesuai jdul aslinya)


KEKASIHKU TERCIPTA DARI AIR MATA API,,
HANGAT DENGAN AROMA MENYENGAT...
AKU TELAH LULUH DI HADAPANYA TANPA PERNAH BISA MELAWAN...
TANPA KEHENDAKNYA...BUKAN..BUKAN KARENA DIA PERAWAN ATAU AKU PERJAKA,,TAPI KARENA DIA TUALNG DARI RUSUKKU..
BERSAMANYA AKU TEMUI API UNGGUN YANG TERUS MENYALA
AKU BELAJAR MENAHAN PANAS, MENARI DAN BERNYANYI SELEPAS AKU MENYERAHKAN DIRI DARI SEGALA KEBODOHANKU KU PADA DIA..
AKU BELAJAR MENGHARGAI CINTA
BERKELANA KE RIMBA-RIMBA WAKTU YANG KEJAM...
ITU SEBABNYA AKU SELALU GAGAL MENENTUKAN TANGGAL DIMANA AKU AKAN BENAR-BENRA PERGI DARI ISTNA HATIMU...
DIRIMU TERUS MENYALA...TAK PERNAH PADAM MEMBAKAR TUBUHKU...AKU HILANG BENTUK REMUK,,TAPI AKU MEMILIKI ARTI YANG KUCARI...
DAN AKU HANYA BISA MEMANGIL HUJAN MESKI MUSIM KEMARAU...
DAN AKU BERLOMBA MENEMPATKAN CINTAKU DI PUNCAK HATIMU..
DENGAN KETULUSAN DAN KEJUJURAN..
MAAFKAN AKU,,PUTRI...



# Puisi-Puisi Lama yang telah hilang,,,ehm,,masa-masanya ababil mungkin ya,,,,

kata ku sih Puisi tapi entahlah?


Anjing betina di ujung jalan
Melihat diriku yang basah karena darah…
Seharusnya melawan,,bukan dengan pisau-pisau tajam,,,
Tapi dengan bunga mawar hitam yang wangi dengn aroma busuk,,,
Melihat mata ku yang merah menahan marah,,,
Bukan marah pada mereka,,tp marah pada dirimu…
Hai,,,anak  sok tau,,,mau apa jadinya kau,,,
mata mu terlalu buta untuk aku perhatikan,,,
Persetan dengan janji-janji tai ku…
Peduli apa dengan iktan persahabatn….
Semua hnya angn malam,,,,
Semua hnya kecoa-kecoa kecil yang mati di injak mobil…
Semuanya hanya anjing2 smapah
Lihat dirimu,,kawan,,
Yang dulu selalu berkata manis di depanku,,dan akhirnya mulut mu terlalu busuk untuk ku dengar
Persetan dengan janji-janji biadab ku,,
Aku dan kamu bukan teman,,bukan pula musuh,,,
Aku dan kamu,,sahabat sekaligus musuh..
Dirimu terlalu tengik untuk aku sapa…
Hanya anjing2 liar yang merayakan kehancuran pertalian kita…
Ehm…..disaat semua akan berakhir,,kita pun akan berakhir,,,,
Hai,,anak sok cantik,,,
Merasa kau hebat di depan ku,,,
Pisau belati sanggup ku tusukan ke jantung mu,,
Mash ada peluru tajam yang siap aku tembakkan ke matamu,,,
Seharunya kau sadar, aku masih lebih baik dari km..
Aku masih lebih hebat dari km,,,
Dan aku mash lebih baik dari semua…
Tp aku adalah api,,,
Dan aku adalah air,,dan aku selalu tersembunyi….
Hanya untuk memilih bintang  kejora yang tersembunyi,,,

Otak mu terlalu tolol untuk aku ajak bicara,,,
Dirimu terlalu hina untuk aku kencani…
Tak ada janji,,tak ada kenangan,,tak ada manis,,
Semua yang ku lalukan pada mu,,hnya sampah,,
Anjing betina di ujung jalan….
Angin mlam membuatku sadar akan kebodohan ku…..
Hanya anjing2 yang terlintas dalam pikiranku ketka mengingat mu….


19-05-09…
masa SMA diman aku mulai belajar mengeja dan belajar berjalan ditengah kehidupan ini

Tulisan pertama yang diedit habis-habisan ketika magang di TEGAL BOTO


Tahun ini adalah tahun kedua kegiatan yang penuh pro dan kontra diantara kalangan mahasiswa ini berlangsung. Ada fakultas yang menyebutnya PK2 lanjutan ada pula yang menyebutnya P2MABA, tetapi kita sepakati untuk meyebut kegiatan  yang banyak menguras tenaga, materi, dan pikiran mahasiswaini P2MABA.

P2MABA adalah kegiatan yang di selenggarakan oleh fakultas dengan manfaat dan tujuan yang berjubel banyaknya. Dari mulai pembentukan mental, memberi bekal baik yang berkaitan dengan bidang akademik, kemahasiswaan, maupun kelembagaan sehingga siap untuk beradaptasi dengan pola kehidupan pendidikan tinggi di UNEJ khususnya fakutas masing-masing. Meski manfaat yang di dapat itu bergantung pada masing-masing individu.menurut Pembantu Dekan 3 fakultas Hukum H.Eddy Mulyono, S.H.,M.Hum kegiatan P2MABA ini sebagai salah satu bukti tanggung jawab moral dan akademik dari universitas dan fakultas untuk mengarahkan mahasiswa agar the right on track. Eddy Mulyono juga menambahkan bahwa kegitan P2MABA ini adalah kebijakan rektor yan harus di laksanakan oleh fakultas dengan aturan-aturan yang telah di tentukan, sehingga tidak ada alasan bagi mahasiswa untuk tidak mengikuti kegiatan ini, dan apabila tidak mengikuti kegiatan yang telah memiliki dasaran hukum yang jelas maka tentu ada reward dan punishment bagi mahasiswa tsb. Dukungan pada kegiatan P2MABA juga dilontarkan oleh Arif Rahman Hakim, sebagai ketua panitia P2MABA fakultas Hukum, mahasiswa asal surabaya yang sebentar lagi akan lulus ini berkomentar bahwa P2MABA ini adalah kegiatan yang memberikan manfaat jika memang di kelola dengan baik dan terbuka. Karena merangsang mahasiswa baru khususnya untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus.

 Kegiatan P2MABA yang memiliki legalitas dengan di dukung oleh keputusan rektor dalam prosesnya akhirnya menciptakan sebuah paksaan bagi mahasiswa baru dan mahasiswa angkatan sebelumnya yang tidak lulus(angkatan 2009) untuk mengikuti kegiatan P2MABA dengan sertifikat P2MABA sebagai alat pemaksanya. Paksaan ini jelas memiliki tujuan untuk meningkatkan antusias.Menurut Arif kegiatan paksaan ini adalah baik, karena nantinya mahasiswa ketika terjun ke masyarakat tidak membiasakan diri untuk menyepelekan hal-hal yang di anggap kecil, tetapi arif tidak setuju jika aturan-aturan yang di buat oleh atas(dekan dan rektor) digunakan untuk meningkatkan antusias, karena meningkatkan antusias dengan aturan adalah pembodohan sedangkan meningkatkan antusias dengan cara-cara  yang kreatif seperti membuat kegiatan yang menarik dapat menjunjung kecerdasan

Mahasiswa yang mengikuti P2MABA yang lulus akan mendapat sertifikat sehingga dapat dengan mudah untuk mengajukan beasiswa, karena sertifikat P2MABA dijadikan sebagai syarat beaiswa dan ada juga wacana yang menyeruak bahwa sertifikat P2MABA ini sebagai syarat skripsi, hal ini pun di setujui oleh Pembantu  Dekan 3 Fakultas Hukum, bahwa sampai sekarang memang belum ada aturan yang membahas tentang sertifikat P2MABA sebagai syarat skripsi, tetapi tidak menutup kemungkinan kedepanya ada. Sedangkan menurut beberapa kesaksian mahasiswa sastra jurusan bahasa Inggris juga demikian, bahwa di ketika pengarahan P2MABA ada dosen sebagai pemateri yang menyatakan bahwa sertifikat P2MABA sebagai syarat dari skripsi dan beasiswa. Dari aturan-aturan itu, dimnana sertifikat P2MABA sebagai sasaran tembak mahasiswa baik yang harus mengulang atau yang baru untuk mengikuti kegiatan P2MABA. Lalu timbul pertanyaan baru, mengapa mahasiswa yang tidak lulus P2MABA khususunya angkatan 2009 harus mengulang demi mendapatkan selembar kertas sertifikat?dan jika di korelasikan antara beasiswa dan sertifikat P2MABA apa hubungan yang pastinya, beasiswa diberikan oleh negara bagi mahasiswa yang berprestasi atau tidak mampu dari sisi ekonomi, tetapi jika hanya dengan selembar kertas sertifikat saja dapat menghalangi tujuan dari beasiswa maka jelas dapat menghalang-halangi bagi mahasiswa yang berhak karena tidak memiliki sertifikat P2MABA, meskipun itu semua keputusan rektor atau keputusan dekan.

Banyak peserta P2MABA yang merasa juga bahwa kegitan P2MABA ini adalah agenda rutin dari pusat yang harus dilaksanakan oleh fakultas yang kesannya akhirnya dipaksakan, hal ini di akui Kunto, mahasiswa Sastra Sejarah angkatan 2010, kegiatan P2MABA hanyalaha seremonial belaka yang kesanya di paksakan dari mulai kegiatannya yang menyimpang jauh dari tujuaanya, jika memang membentuk mental di antara sekian banyak kegiatan selama satu semester hanya satu yang dianggap mewakili sebagai sarana pembentukan mental, yaitu malam inagurasi dengan menampilkan seni-seni, tetapi itu tidak kena pada sasarannya yaitu mahasiswa karena mahasiswa sudah terlanjur apatis dengan kegiatan P2MABA yang di kenal membosankan. Sedangkan menurut Gunawan dari Mahasiswa Sastra jurusan Sastra Inggris, kegiatan P2MABA yang merupakan agenda rutin dari fakultas harusnya sudah tidaka ada kesan dipaksakan lagi, jika memang tidak ada dana, mengapa mahasiswa yang harus bayar ini itu hanya demi memenuhi tuntutan yang diberikan oleh rektorat pada fakultas, lalu uang yang di bayarkan pada daftra ulang untuk kegiatan P2MABA kemana jika harus buku panduan bayar, tas yang dibuat panitia harus beli.

Pada intinya kegiatan P2MABA ini jelas ada manfaatnya, dan tidak saja indah dalam kertas-kertas atau dalam keputusan rektor saja, apabila dari segala pihak-pihak yang lerlibar dalam penyelenggaran P2MABA ini siap dalam menjalankan kegiatan ini. Tetapi jika dilihat dari sertifikat yang digunakan sebagai syarat beasiswa atau bahkan skripsi seharusnya ditinjau ulang oleh pihak yang mengelurakan kebijakan. Karena sertifikat bukanlah hal yang  mutlak, seharunya pula dapat disubtitusikan denganhal-hal yang nilainya sama dengan sertifikat P2MABA sehingga mahasiswa tidak merasa terbodohi oleh aturan-aturan yang berlaku.

ini tulisan pertamaku sebelum aku magang di UKPKM TEGAL BOTO


1MEI BUKANLAH PASAR MALAM


Lagi, aku harus melihat Buruh itu berteriak-teriak. Si tertindas yang menentang si penindas. Setiap tahun, pada tanggal 1 Mei, peringatan May day atau hari Buruh di peringati hanya sebagai seremonial belaka. Yang berduyun-dyun datang dan berduyun-duyun lupa akan esensi dari MAY DAY itu. Inilah model dari gerakan dari Buruh, atau dari mereka yang bersimpati pada kaum Buruh selalu seperti itu. Hanya meletup-letup pada tanggal 1 Mei. Merasa diri paling simpati pada Buruh. Oh tidak, bukan momentum bagaimana membawa Buruh bangkit, tapi hanya momentum untuk Buruh turun ke jalan, atau “diarahkan” turun ke jalan, mogok kerja, boikot atau apalah itu yang hanya seremonial belaka(ditekanan seremonoial belaka) saja.

Sedangkan bagi mereka yang bersimpati pada Buruh tetapi enggan bersentuhan langsung pada Buruh, enggan tanggannya kotor karena bersentuhan dengan debu-debu pabrik, sampah-sampah pasar hanya berlenggang seolah-olah mereka PAHLAWAN yang di nantikan Buruh bagai sang MESIAH. “Mereka” berdebat diruang-ruang diskusi sampai pagi mengeluarkan teori-teori Kooptasi, Alenasi, mengeluarkan petuah-petuah dari Karl Marx, sampai berdebat panjang lebar mengatas namakan Manifesto Komunis, atau  apalah itu yang menwakili semangat(lebih tepat Mimpi) untuk memperjuangkan Buruh. Lain Buruh, lain aktivis Buruh, lain pula Mahasiswa. Mahasiswa lebih tidak ingin bersentuhan langsung dengan penderintaan Buruh. Membuat seminar tetapi menempatkan Buruh sebagai objek penderita, berbicara Buruh kok Buruhnya tidak ada. Justru ini menjadi petaka baru menempatkan Buruh hanya sebagai sarana untuk memperkukuh eksisetensi “kaum yang merasa intekek”. Suatu yang sangat ironis itu terjadi ketika  yang di beri pelatihan, seminar bukan Buruh-Buruh untuk berjuang bagaimana agar perjuangannya tidak setengah-setengah, tetapi tuntas. Justru yang ikut seminar  justru mahasiwa yang tuli pada suara realita. Tetapi  seolah-olah menjadi agent of change, atau agen control sosial, tetapi tidak lebih baik dari agen koran dan tukang sapu jalanan yang mana mereka mempunyai sumbangsih yang nyata bagi perjuangan Buruh.

Menempatkan Buruh sebagai objek eksistensi kelompok tertentu, agar terlirhat seksi dalam perjuangan, meskipun tidak ada output yang didapat sama sekali bagi Buruh, bagi mahasiswa-mahasiswa yang sukanya pada tuntutan eksistensi itu. Menempatkan Buruh sebagai subjek perjuangan lebih mulia dari pada hanya menempatkan buruh sebagai objek yang rentan untuk di tunggangi oleh kepentingan-kepentingan yang membiaskan substansi dari penindasan yang di tenyata sudah dihalalakan Pemerintah ini. Sebagai subjek, Buruh mampu memempatkan diri sebagai kreator untuk dirinya sendiri(Buruh), subjek sama halnya memempatkan Buruh pada posisi yang mana mereka pun adalah bagian dari perjuangan untuk lebih maju, karena dari sisi subjek tadi mampu menghadirkan kreatifitas yang justu akan memempatkan status sosialnya lebih baik karena ketika perjuangan itu di dapat oleh sendiri maka akan mengangkat status buruh. Seperti halnya di ceritkan dalam “JEJAK LANGKAH” ketika buruh-buruh tebu dari suku Samin melakukan pemboikotan karena kesadaran mereka akan hidup yang tertindas oleh Kolonial pada waktu itu yang mampu menggemparkan ekonomi Hindia Belanda pada waktu itu. Inilah  sebagai contoh konkrit bagaimana Buruh bukanlah kaum yang harus di tuntun terus menerus lalu diluapkan emosinya hanya dalam satu moment yang sifatnya jauh dari gerakan yang masif. Hari Buruh tidak seharusnya hanya diperingati sesaat dan dilupakan lalu di ingat kembali dan begitu seterusnya. Saya menjamin harus air laut menjadi manis jika bicara tentang perbaikan nasib Buruh jika cara yang di gunakan seperti orang-orang dalam pasar malam yang beruforia dalam semalam lalu pulang dan lupa.

 Sekali lagi yang perlu kita pahami di hari BURUH bukanlah seperti hari lebaran atau hari Natal, atau hari Thanksgiving di Amerika, yang hanya luapan seremonial kemenangan.

Hari Buruh adalah hari dimana Buruh menentapkan komitmennya untuk bersatu, untuk mendeklarasikan kemerdekaannya dalam arti bentuk segala penindasan yang terjadi pada Buruh harus di lawan, harus disingkirkan. Buruh harus memastikan eksplotasi terhadap mereka harus di hapuskan. Buruh harus tidak mengenal lagi praktek ekploitasi”nilai lebih’ yang mana antara keuntungan yang di peroleh dari tenaga Buruh hanya di nikmati oleh pemodal-pemodal atau kapitalis busuk yang justru dilindungi oleh pemerintah.

Nah ini dia tugas kita sebagai kita. Kita yang mengaku mahasiwa, kita yang mengaku aktivis. Tidak seharusnya kita menjadi Buruh sebagai objek untuk mengukuhkan tugas kita hanya secara formal saja ketika berbicara tentang agen perubahan atau sebagai kontrol sosial. Tidak akan pernah bisa berubah nasib Buruh jika hanya sebatas demo dengan masa 15 orang, tidak akan berubah nasib Buruh jika hanya seminar, bahkan dengan tema-tema dan pemateri yang memprihatinkan, ruang yang membatasi kita untuk bergerak dan bersatu. Kita yang harusnya mengawal, menjaga komitmen Buruh, menyadarkan Buruh, sebab perubahan nasib ada di tangan Buruh itu sendiri, bukan di tangan kita, karena hanya Buruh yang bersatu yang mampu menggoyahkan kemunafikan para pemodal yang dianggap oleh pemerintah sebagai pahlawan, tetapi pada nyatanya berkedok sebagai penindas yang menjauhkan Buruh dari bagaimana itu indahnya memanusiakan manusia.

Kita sebagai kaum yang bisa dikatakan memiliki pola pikir yang lebih baik seharusnya bisa berkomitmen untuk memujudkan bangsa yang humanis dengan ilmu yang diaktualisasikannya. Karl Marx pernah berkata “ Ilmu tidak boleh menjadi kesenangan untuk diri sendiri. Orang-orang yang memiliki nasib baik untuk terjun dalam pencarian ilmu pertama-tama harus menempatkan ilmu pengetahuan demi kepentingan kemanusiaan” Sekali lagi saya beri penegasan, JANGAN PERNAH JADIKAN BURUH SEBAGAI OBJEK KITA(MAHASISWA DAN AKTIFIS PRO BURUH) UNTUK HANYA MENGUKUHKAN GELAR2/TUGAS KITA YANG TERLIHAT BEGITU BESAR FORMALITASNYA. TETAPI JADIKAN BURUH(KAUM YANG TERTINDAS) SEBAGAI SUBJEK PERJUANGAN, JADIKAN  BURUH KAWAN PERJUANGAN KITA.[*]