1MEI BUKANLAH PASAR MALAM
Lagi, aku harus melihat Buruh itu berteriak-teriak. Si tertindas yang menentang si penindas. Setiap tahun, pada tanggal 1 Mei, peringatan May day atau hari Buruh di peringati hanya sebagai seremonial belaka. Yang berduyun-dyun datang dan berduyun-duyun lupa akan esensi dari MAY DAY itu. Inilah model dari gerakan dari Buruh, atau dari mereka yang bersimpati pada kaum Buruh selalu seperti itu. Hanya meletup-letup pada tanggal 1 Mei. Merasa diri paling simpati pada Buruh. Oh tidak, bukan momentum bagaimana membawa Buruh bangkit, tapi hanya momentum untuk Buruh turun ke jalan, atau “diarahkan” turun ke jalan, mogok kerja, boikot atau apalah itu yang hanya seremonial belaka(ditekanan seremonoial belaka) saja.
Sedangkan bagi mereka yang bersimpati pada Buruh tetapi enggan bersentuhan langsung pada Buruh, enggan tanggannya kotor karena bersentuhan dengan debu-debu pabrik, sampah-sampah pasar hanya berlenggang seolah-olah mereka PAHLAWAN yang di nantikan Buruh bagai sang MESIAH. “Mereka” berdebat diruang-ruang diskusi sampai pagi mengeluarkan teori-teori Kooptasi, Alenasi, mengeluarkan petuah-petuah dari Karl Marx, sampai berdebat panjang lebar mengatas namakan Manifesto Komunis, atau apalah itu yang menwakili semangat(lebih tepat Mimpi) untuk memperjuangkan Buruh. Lain Buruh, lain aktivis Buruh, lain pula Mahasiswa. Mahasiswa lebih tidak ingin bersentuhan langsung dengan penderintaan Buruh. Membuat seminar tetapi menempatkan Buruh sebagai objek penderita, berbicara Buruh kok Buruhnya tidak ada. Justru ini menjadi petaka baru menempatkan Buruh hanya sebagai sarana untuk memperkukuh eksisetensi “kaum yang merasa intekek”. Suatu yang sangat ironis itu terjadi ketika yang di beri pelatihan, seminar bukan Buruh-Buruh untuk berjuang bagaimana agar perjuangannya tidak setengah-setengah, tetapi tuntas. Justru yang ikut seminar justru mahasiwa yang tuli pada suara realita. Tetapi seolah-olah menjadi agent of change, atau agen control sosial, tetapi tidak lebih baik dari agen koran dan tukang sapu jalanan yang mana mereka mempunyai sumbangsih yang nyata bagi perjuangan Buruh.
Menempatkan Buruh sebagai objek eksistensi kelompok tertentu, agar terlirhat seksi dalam perjuangan, meskipun tidak ada output yang didapat sama sekali bagi Buruh, bagi mahasiswa-mahasiswa yang sukanya pada tuntutan eksistensi itu. Menempatkan Buruh sebagai subjek perjuangan lebih mulia dari pada hanya menempatkan buruh sebagai objek yang rentan untuk di tunggangi oleh kepentingan-kepentingan yang membiaskan substansi dari penindasan yang di tenyata sudah dihalalakan Pemerintah ini. Sebagai subjek, Buruh mampu memempatkan diri sebagai kreator untuk dirinya sendiri(Buruh), subjek sama halnya memempatkan Buruh pada posisi yang mana mereka pun adalah bagian dari perjuangan untuk lebih maju, karena dari sisi subjek tadi mampu menghadirkan kreatifitas yang justu akan memempatkan status sosialnya lebih baik karena ketika perjuangan itu di dapat oleh sendiri maka akan mengangkat status buruh. Seperti halnya di ceritkan dalam “JEJAK LANGKAH” ketika buruh-buruh tebu dari suku Samin melakukan pemboikotan karena kesadaran mereka akan hidup yang tertindas oleh Kolonial pada waktu itu yang mampu menggemparkan ekonomi Hindia Belanda pada waktu itu. Inilah sebagai contoh konkrit bagaimana Buruh bukanlah kaum yang harus di tuntun terus menerus lalu diluapkan emosinya hanya dalam satu moment yang sifatnya jauh dari gerakan yang masif. Hari Buruh tidak seharusnya hanya diperingati sesaat dan dilupakan lalu di ingat kembali dan begitu seterusnya. Saya menjamin harus air laut menjadi manis jika bicara tentang perbaikan nasib Buruh jika cara yang di gunakan seperti orang-orang dalam pasar malam yang beruforia dalam semalam lalu pulang dan lupa.
Sekali lagi yang perlu kita pahami di hari BURUH bukanlah seperti hari lebaran atau hari Natal , atau hari Thanksgiving di Amerika, yang hanya luapan seremonial kemenangan.
Hari Buruh adalah hari dimana Buruh menentapkan komitmennya untuk bersatu, untuk mendeklarasikan kemerdekaannya dalam arti bentuk segala penindasan yang terjadi pada Buruh harus di lawan, harus disingkirkan. Buruh harus memastikan eksplotasi terhadap mereka harus di hapuskan. Buruh harus tidak mengenal lagi praktek ekploitasi”nilai lebih’ yang mana antara keuntungan yang di peroleh dari tenaga Buruh hanya di nikmati oleh pemodal-pemodal atau kapitalis busuk yang justru dilindungi oleh pemerintah.
Nah ini dia tugas kita sebagai kita. Kita yang mengaku mahasiwa, kita yang mengaku aktivis. Tidak seharusnya kita menjadi Buruh sebagai objek untuk mengukuhkan tugas kita hanya secara formal saja ketika berbicara tentang agen perubahan atau sebagai kontrol sosial. Tidak akan pernah bisa berubah nasib Buruh jika hanya sebatas demo dengan masa 15 orang, tidak akan berubah nasib Buruh jika hanya seminar, bahkan dengan tema-tema dan pemateri yang memprihatinkan, ruang yang membatasi kita untuk bergerak dan bersatu. Kita yang harusnya mengawal, menjaga komitmen Buruh, menyadarkan Buruh, sebab perubahan nasib ada di tangan Buruh itu sendiri, bukan di tangan kita, karena hanya Buruh yang bersatu yang mampu menggoyahkan kemunafikan para pemodal yang dianggap oleh pemerintah sebagai pahlawan, tetapi pada nyatanya berkedok sebagai penindas yang menjauhkan Buruh dari bagaimana itu indahnya memanusiakan manusia.
Kita sebagai kaum yang bisa dikatakan memiliki pola pikir yang lebih baik seharusnya bisa berkomitmen untuk memujudkan bangsa yang humanis dengan ilmu yang diaktualisasikannya. Karl Marx pernah berkata “ Ilmu tidak boleh menjadi kesenangan untuk diri sendiri. Orang-orang yang memiliki nasib baik untuk terjun dalam pencarian ilmu pertama-tama harus menempatkan ilmu pengetahuan demi kepentingan kemanusiaan” Sekali lagi saya beri penegasan, JANGAN PERNAH JADIKAN BURUH SEBAGAI OBJEK KITA(MAHASISWA DAN AKTIFIS PRO BURUH) UNTUK HANYA MENGUKUHKAN GELAR2/TUGAS KITA YANG TERLIHAT BEGITU BESAR FORMALITASNYA. TETAPI JADIKAN BURUH(KAUM YANG TERTINDAS) SEBAGAI SUBJEK PERJUANGAN, JADIKAN BURUH KAWAN PERJUANGAN KITA.[*]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar