“anugerah
terbaik adalah mati muda, berbahagialah mereka yang mati muda”. Itulah sebaik
puisi dari Soe Hok Gie, yang aku lupa judulnya.
Awalanya dari puisi itu hanya kumaknai sekedar dari sisi gramatikal,
tapi lama aku berpikir untuk menemukan makna yang lebih dari sekedar itu.
Pengungkapan makna puisi yang langsung saja semua itu mengingatkan ku pada
sosok Ayahku. Bukan” mati mudanya” yang
diartikan secara langsung. Tetapi makna tersembunyi “mati muda,
berbahagialah mereka yang mati muda?”.
Memang pada akhirnya aku harus meyakini apa yang ku dapat tentang makna
mati muda itu. Mati muda bukan berarti menyerahkan diri dalam takdir yang
selalu menantang, yang akhirnya frustasi dalam ketidakmampuan diri sehingga
terasing dalam sudut-sudut yang munafik
dan pengecut. Bukan, bukan itu aku dan
Soe Hok Gie maksud. Mati muda adalah pilihan diri yang lian. Yang tetap pada konsistensi dalam menjungjung makna idealism
yang akhirnya bermetamorfosis dalam prinsip hidup yang tidak bisa di ganggu
gugat meski itu sebagai pilihan yang sulit. Pilihan yang sulit aku tegaskan
sekali lagi yaitu “BUNUH DIRI KELAS, MUTASI SOSIAL”. Hal itu yang Soe Hok Gie
lakukan sehingga dia lebih baik di asingkan dari pada tunduk pada kemunafikan.
Gie bukan terlahir sebagai pengecut yang
lari dari kenyataan, tapi Gie melawan kenyataan yang tidak berpihak padanya
dengan tidak berurusan dengan api kepentingan yang pragmatis.Gie sadar betul
ketika melihat kawan-kawan seperjuangannya akhirnya tunduk pada system yang
menurut Gie tidak jauh berbeda dengan rezim
yang dulu Gie lawan. Sehingga ‘dari pada dia berada dalam kondisi yang
bisa membuat dia “kalah”, Gie lebih bangga “mati muda” di Mahameru.
Kembali pada
sosok Ayahku. Tidak berbeda jauh esensi yang dilakukan Gie dengan Ayahku selain
jamannya dan pilihan Gie yang akhirnya harus menghirup udara terakhirnya di
puncak Mahameru di usianya ke 27 tahun. Ayahku lebih hebat dari itu semua.
Ayahk tidak mengasingkan dari di tengah kemnunafikan, tidak pula memilih jalan
seperti Gie. Tetapi Ayahku mengendap-endap bagai Harimau lapar memasuki ruang
kemunafikan yang berstruktur rapih. Dia bukan untuk menjadi bagian
pelacur-pelacur yang jauh tidak terhormat dari PSK. Dia bukan pula datang untuk
menjadi sosok yang mengikrarkan diri dalam panggung pengumunan yang di tonton
ribuan rakyat yang sudah muak dengan alibi-alibi busuk yang tak berujung.
Ayahku tetap Ayahku dengan kesederhanaanya untuk memilih mutasi sosial dan
lebih bangga mengumpulkan kerikil-kerikil kecil, bergerak dari sudut-sudut
termarjinalkan untuk memukul penguasa yang lapar akan kepentingan busuk. Sudah
terbukti. Tapi aku tidak ingin bercerita soal itu, biarlah di lain waktu saja.
Aku yaikin
seyakin aku punya keyakinan, memilih untuk menjadi Ayahku sangat sulit untuk
dijalani karena pilihan untuk selalu menjadi sederhana, entah pada definisi
sederhana baginya?. Masih dengan keyakinanku “ hidupnya seharusnya seharusnya
jauh lebih baik dari sekedar hari ini”. Dengan nada keras Ayahku menjawab “ apa
kau mau hidup dari hasil melacur?”. Melacur? Konotasi apalagi yang dia yakini.
Entahlah aku selalu meraba-raba dalam ruang yang absurd. Dalam pilihan Ayahku
itu ada dampak yang kadang membuat ku menggerutu. Dulu ketika aku masih SMA,
kadang aku harus menahan diri untuk bisa menimati masa mudaku dengan lepas,
bukan karena pengekangan tapi soal klasik yang setiap kepala di dunia ini
butuhkan. Aih, aku harus juga menjadi sederhana, wajarlah mungkin ketika di
usia ku yang masih ababil (ABG LABIL) kadang tertusuk oleh rasa galau karena
tidak bisa dengan leluasa “memanfaatkan” orang tua untuk menikmati hidup di
masa muda. Aku harus menabung untuk membeli apa yang ku mau, yang ku mau di
anggap sebagai kebutuhan tersier, yang ayahku yakini, bahwa kebutuhan yang ada
itu hnya kebutuhan Primer saja. Mungkin dulu ketika SMP tidak pernah masuk
pelajaran Ekonomi atau gurunya lupa
tidak mengajarkan tentang kebutuhan-kebutuhan manusia itu di klasifikasikan
menjadi tiga macam. Entahlah. Sampai untuk
beli handphone aku nabung dari uang sakuku yang hanya 3000 ukuran yang sangat
sedikit ketika aku SMP karena harus dibagi oleh ongkos, terpaksa hampir setahun
aku harus Manahan diri untuk tidak jajan di sekolah dan kadang saja ketika ada
uang lebih, selain itu aku harus memutar otak untuk bisa dapat uang, jalan
satu-satunya aku harus memanfaatkan anugerah pemberian Tuhan, apalagi kalau
bukan otak manusia yang senantiasa untuk terus berpikir dan berpikir, ku
memulainya dengan berjualan makalah pada teman-teman yang malas untuk
mengerjakan tugas-tugas dan benar saja sangat membantu. Kisah itu hanya banyak
cerita untuk mandiri, yang pada hari aku kenal
sebagai BERDIKARI. Dan yang terakhir ini aku pun menabung untuk
mendapatkan Laptop, dan alhamdulilah dengan uang bulanan 500ribu, dipotong makan,
photocopy, uang kost pula aku berhasil membelinya sendiri. Kebiasaan ku dari
sejak SMP untuk selalu berusaha sendiri akhirnya memang membuahkan hasil,
ketika dulu aku menabung karena yakin tidak di kasih,sekarang aku menanbung
karena aku malu untuk meminta, aku tidak ingin menjadi benalu itu saja. Prinsip
hidup yang di dapat karena proses panjang. Ketika dulu aku merasa “iri” pada teman-temaku karena aku
harus banyak bersabar ketika mengingkan sesuatu karena orang tua ku berbeda
pandangan soal apa yang ku mau, sekarang aku bangga dan senang berhasil
memenuhi kebutuhan ku diluar kebutuhan pokokku secara mandiri dengan usaha yang
beraneka ragam. Aku bangga tidak menyusahkan orang tua.
Dari semua itu
aku belajar soal makna berjuang, makna untuk bisa hidup dimanapun kita
berpijak. Manfaatnya didapat sekarang ini ketika aku jauh dari orang tua.
Proses pendidikan yang aneh tapi terbukti ampuh, haha. Aku jadi teringat pada
celoteh Pidi Baiq, mantan vokalisnya The Panas Dalam “anak-anak memang butuh
uang, tapi lebih butuh untuk menjadi bangga pada Ayahnya”. Benar sekali yang
jauh lebih besar dari semua itu kebangga pada sosok ayahnya yang juga ku
cari-cari sendiri. Karena ayahku bukan ayah yang suka mendongen atau bercerita
tentang kisahnya. Sehingga komunikasi dengan anak-anaknya pun sangat terkesan formal
banget. Khususnya denga aku ini. Tapi tak apalah, mungkin dia mendidik anaknya
dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan karakternya.
Kembali pada
makna mati muda, entah sejak kapan Ayahku memaku diri dalam prinsip yang tidak
ingin “kaya” jika tolak ukurnya adalah materi. Memang konsistensi menjadi
jawabannya. Ayahku telah membuat anti tesis terhadap puisi Gie, Ayahku tidak
mengasingkan diri dari kemunafikan tapi Ayahku melawan kemnufikan. Dia tidak
mati muda, tapi sering untuk dimatikan. Sering kalinya nyawanya dipertaruhkan
untuk konsistensinya yang tidak pernah menemukan titik ujungnya. Bahkan dalam
suatu kisah, kita sekeluarga pernah terpanggang
habis jika saja mamahku tidak sadar bahwa rumah kita sedang dilalap api.
Ayahku tidak gentar, dan kami, aku pun tidak sedikitpun merasa gentar sediikit pun bahkan semakin memacu untuk
meningkatkan laju perlawanan Ayahku. Istimewa benar.
Kini ayah
menginjak usia senja, sampai sejauh ini aku meraba-raba sampai kapan kau akan
terhenti pada satu titik konsistensimu. Aku sama sekali tidak pernah tau dan
tidak bisa menebaknya karena itu hanya menambah tanyaku. Terlepas dari semua
masalah yang dulu tidak pernah kita sepakati aku bangga pada mu, yah. Sangat
bangga. Meski kita harus berdebat panjang untuk menemukan kesimpulan akan
tujuan hidup, meski dulu kau seriang lupa memperlalkukan dengan wajar anakmu
ini, meski pada nyatanya kita memang berbeda. Sekali lagi ku tegaskan pada mu.
Yah, aku bangga menjadi anakmu. Memang aku harus jujur Ayahku memang tidak banyak
mengajarkan ku banyak hal tentang nilai-nilai kehidupan ini pada ku. Sampai
pada hal itu pula aku harus mencari sendiri dalam liku-liku Tanya yang
dipecahkan oleh realita yang ku temukan. Tapi semua itu membuatku belajar dan
belajar. Jujur saja yah, aku tidak bisa untuk menjadi seperti mu, karena memang
aku tidak mau, tapi aku banyak belajar darimu soal konsistensi, soal makna
berjuang dalam tataran praksis membuat yang tidak realistis di awalnya dan
menjadi realistis di akhir. Semua itu hanya ku temukan di Ayahku saja. (maaf
mah, aku tidak sedang menulis tentang mu). Terimakasih atas semua karya mu yang
juga harus kubenturkan pada anti teas-anti tesa realita yang jauh dari sisi
ideal, kutegaskna sekali lagi kau menjawab itu dengan tindakan nyata.
Ini yang
terakhir, aku hanya ingin member tahu pada mu sebagai Ayahku. Hampir selama 9
bulan aku berada dalam proses magang yang panjang di Lembaga Pers Mahasiswa
Tegal Boto, dimana aku belajar banyak tentang hal-hal yang baru yang lebih
menarik. Pada minggu ini, aku mencapai titik zenit dalam pencampain awal
menjadi bagian dari mereka. Aku di terima oleh mereka setelah seleksi yang
sangat ketat apalagi kalau bukan karena statusku sebagai mahasiswa ekstra. Pada
awalnya memang ada ketakutan pada ku, karena aku di khawatirkan menjadi
penyusup dan merusak organisasi Tegalboto, tapi aku berhasil meyakinkan semua
pihak bahwa niatku bergabung dengan Tegalboto hanya untuk belajar dan menimba
pengalaman. semua terjawab kini aku dipercaya sebagai REDAKTUT PELAKSANA DIVISI
WACANA. Aku menjadi GmnI kedua yang dalam sejarah TegalBoto yang berhasil
menembuh jajaran redaksi, kini aku resmi menyandang sebagai Wartawan Kampus
meksi tulisanku banyak dicaci dan di maki tapi ini belajar . aku masih dalam
proses menulis bagus. Mereka menerima ku bukan karena tulisanku yang bagus tapi
karena mereka ingin aku merubah gerakan TB untuk lebih progresif.
Salam untuk
mamahku dan adik-adikku. Sayangilah mereka!!!!
k
Tidak ada komentar:
Posting Komentar