Sabtu, 10 Maret 2012

Surat Untuk Ayah dari Anakmu yang tidak lagi sejalan denganmu!


“anugerah terbaik adalah mati muda, berbahagialah mereka yang mati muda”. Itulah sebaik puisi dari Soe Hok Gie, yang aku lupa judulnya.  Awalanya dari puisi itu hanya kumaknai sekedar dari sisi gramatikal, tapi lama aku berpikir untuk menemukan makna yang lebih dari sekedar itu. Pengungkapan makna puisi yang langsung saja semua itu mengingatkan ku pada sosok Ayahku. Bukan” mati mudanya” yang  diartikan secara langsung. Tetapi makna tersembunyi “mati muda, berbahagialah mereka yang mati muda?”.  Memang pada akhirnya aku harus meyakini apa yang ku dapat tentang makna mati muda itu. Mati muda bukan berarti menyerahkan diri dalam takdir yang selalu menantang, yang akhirnya frustasi dalam ketidakmampuan diri sehingga terasing dalam sudut-sudut yang  munafik dan pengecut.  Bukan, bukan itu aku dan Soe Hok Gie maksud. Mati muda adalah pilihan diri yang lian. Yang tetap pada konsistensi dalam menjungjung makna idealism yang akhirnya bermetamorfosis dalam prinsip hidup yang tidak bisa di ganggu gugat meski itu sebagai pilihan yang sulit. Pilihan yang sulit aku tegaskan sekali lagi yaitu “BUNUH DIRI KELAS, MUTASI SOSIAL”. Hal itu yang Soe Hok Gie lakukan sehingga dia lebih baik di asingkan dari pada tunduk pada kemunafikan. Gie bukan terlahir sebagai pengecut  yang lari dari kenyataan, tapi Gie melawan kenyataan yang tidak berpihak padanya dengan tidak berurusan dengan api kepentingan yang pragmatis.Gie sadar betul ketika melihat kawan-kawan seperjuangannya akhirnya tunduk pada system yang menurut Gie tidak jauh berbeda dengan rezim  yang dulu Gie lawan. Sehingga ‘dari pada dia berada dalam kondisi yang bisa membuat dia “kalah”, Gie lebih bangga “mati muda” di Mahameru.  
Kembali pada sosok Ayahku. Tidak berbeda jauh esensi yang dilakukan Gie dengan Ayahku selain jamannya dan pilihan Gie yang akhirnya harus menghirup udara terakhirnya di puncak Mahameru di usianya ke 27 tahun. Ayahku lebih hebat dari itu semua. Ayahk tidak mengasingkan dari di tengah kemnunafikan, tidak pula memilih jalan seperti Gie. Tetapi Ayahku mengendap-endap bagai Harimau lapar memasuki ruang kemunafikan yang berstruktur rapih. Dia bukan untuk menjadi bagian pelacur-pelacur yang jauh tidak terhormat dari PSK. Dia bukan pula datang untuk menjadi sosok yang mengikrarkan diri dalam panggung pengumunan yang di tonton ribuan rakyat yang sudah muak dengan alibi-alibi busuk yang tak berujung. Ayahku tetap Ayahku dengan kesederhanaanya untuk memilih mutasi sosial dan lebih bangga mengumpulkan kerikil-kerikil kecil, bergerak dari sudut-sudut termarjinalkan untuk memukul penguasa yang lapar akan kepentingan busuk. Sudah terbukti. Tapi aku tidak ingin bercerita soal itu, biarlah di lain waktu saja.
Aku yaikin seyakin aku punya keyakinan, memilih untuk menjadi Ayahku sangat sulit untuk dijalani karena pilihan untuk selalu menjadi sederhana, entah pada definisi sederhana baginya?. Masih dengan keyakinanku “ hidupnya seharusnya seharusnya jauh lebih baik dari sekedar hari ini”. Dengan nada keras Ayahku menjawab “ apa kau mau hidup dari hasil melacur?”. Melacur? Konotasi apalagi yang dia yakini. Entahlah aku selalu meraba-raba dalam ruang yang absurd. Dalam pilihan Ayahku itu ada dampak yang kadang membuat ku menggerutu. Dulu ketika aku masih SMA, kadang aku harus menahan diri untuk bisa menimati masa mudaku dengan lepas, bukan karena pengekangan tapi soal klasik yang setiap kepala di dunia ini butuhkan. Aih, aku harus juga menjadi sederhana, wajarlah mungkin ketika di usia ku yang masih ababil (ABG LABIL) kadang tertusuk oleh rasa galau karena tidak bisa dengan leluasa “memanfaatkan” orang tua untuk menikmati hidup di masa muda. Aku harus menabung untuk membeli apa yang ku mau, yang ku mau di anggap sebagai kebutuhan tersier, yang ayahku yakini, bahwa kebutuhan yang ada itu hnya kebutuhan Primer saja. Mungkin dulu ketika SMP tidak pernah masuk pelajaran Ekonomi  atau gurunya lupa tidak mengajarkan tentang kebutuhan-kebutuhan manusia itu di klasifikasikan menjadi tiga macam. Entahlah.  Sampai untuk beli handphone aku nabung dari uang sakuku yang hanya 3000 ukuran yang sangat sedikit ketika aku SMP karena harus dibagi oleh ongkos, terpaksa hampir setahun aku harus Manahan diri untuk tidak jajan di sekolah dan kadang saja ketika ada uang lebih, selain itu aku harus memutar otak untuk bisa dapat uang, jalan satu-satunya aku harus memanfaatkan anugerah pemberian Tuhan, apalagi kalau bukan otak manusia yang senantiasa untuk terus berpikir dan berpikir, ku memulainya dengan berjualan makalah pada teman-teman yang malas untuk mengerjakan tugas-tugas dan benar saja sangat membantu. Kisah itu hanya banyak cerita untuk mandiri, yang pada hari aku kenal  sebagai BERDIKARI. Dan yang terakhir ini aku pun menabung untuk mendapatkan Laptop, dan alhamdulilah dengan uang bulanan 500ribu, dipotong makan, photocopy, uang kost pula aku berhasil membelinya sendiri. Kebiasaan ku dari sejak SMP untuk selalu berusaha sendiri akhirnya memang membuahkan hasil, ketika dulu aku menabung karena yakin tidak di kasih,sekarang aku menanbung karena aku malu untuk meminta, aku tidak ingin menjadi benalu itu saja. Prinsip hidup yang di dapat karena proses panjang. Ketika dulu aku  merasa “iri” pada teman-temaku karena aku harus banyak bersabar ketika mengingkan sesuatu karena orang tua ku berbeda pandangan soal apa yang ku mau, sekarang aku bangga dan senang berhasil memenuhi kebutuhan ku diluar kebutuhan pokokku secara mandiri dengan usaha yang beraneka ragam. Aku bangga tidak menyusahkan orang tua.
Dari semua itu aku belajar soal makna berjuang, makna untuk bisa hidup dimanapun kita berpijak. Manfaatnya didapat sekarang ini ketika aku jauh dari orang tua. Proses pendidikan yang aneh tapi terbukti ampuh, haha. Aku jadi teringat pada celoteh Pidi Baiq, mantan vokalisnya The Panas Dalam “anak-anak memang butuh uang, tapi lebih butuh untuk menjadi bangga pada Ayahnya”. Benar sekali yang jauh lebih besar dari semua itu kebangga pada sosok ayahnya yang juga ku cari-cari sendiri. Karena ayahku bukan ayah yang suka mendongen atau bercerita tentang kisahnya. Sehingga komunikasi dengan anak-anaknya pun sangat terkesan formal banget. Khususnya denga aku ini. Tapi tak apalah, mungkin dia mendidik anaknya dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan karakternya.
Kembali pada makna mati muda, entah sejak kapan Ayahku memaku diri dalam prinsip yang tidak ingin “kaya” jika tolak ukurnya adalah materi. Memang konsistensi menjadi jawabannya. Ayahku telah membuat anti tesis terhadap puisi Gie, Ayahku tidak mengasingkan diri dari kemunafikan tapi Ayahku melawan kemnufikan. Dia tidak mati muda, tapi sering untuk dimatikan. Sering kalinya nyawanya dipertaruhkan untuk konsistensinya yang tidak pernah menemukan titik ujungnya. Bahkan dalam suatu kisah, kita sekeluarga pernah terpanggang  habis jika saja mamahku tidak sadar bahwa rumah kita sedang dilalap api. Ayahku tidak gentar, dan kami, aku pun tidak sedikitpun merasa gentar  sediikit pun bahkan semakin memacu untuk meningkatkan laju perlawanan Ayahku. Istimewa benar.   
Kini ayah menginjak usia senja, sampai sejauh ini aku meraba-raba sampai kapan kau akan terhenti pada satu titik konsistensimu. Aku sama sekali tidak pernah tau dan tidak bisa menebaknya karena itu hanya menambah tanyaku. Terlepas dari semua masalah yang dulu tidak pernah kita sepakati aku bangga pada mu, yah. Sangat bangga. Meski kita harus berdebat panjang untuk menemukan kesimpulan akan tujuan hidup, meski dulu kau seriang lupa memperlalkukan dengan wajar anakmu ini, meski pada nyatanya kita memang berbeda. Sekali lagi ku tegaskan pada mu. Yah, aku bangga menjadi anakmu. Memang aku harus jujur Ayahku memang tidak banyak mengajarkan ku banyak hal tentang nilai-nilai kehidupan ini pada ku. Sampai pada hal itu pula aku harus mencari sendiri dalam liku-liku Tanya yang dipecahkan oleh realita yang ku temukan. Tapi semua itu membuatku belajar dan belajar. Jujur saja yah, aku tidak bisa untuk menjadi seperti mu, karena memang aku tidak mau, tapi aku banyak belajar darimu soal konsistensi, soal makna berjuang dalam tataran praksis membuat yang tidak realistis di awalnya dan menjadi realistis di akhir. Semua itu hanya ku temukan di Ayahku saja. (maaf mah, aku tidak sedang menulis tentang mu). Terimakasih atas semua karya mu yang juga harus kubenturkan pada anti teas-anti tesa realita yang jauh dari sisi ideal, kutegaskna sekali lagi kau menjawab itu dengan tindakan nyata.
Ini yang terakhir, aku hanya ingin member tahu pada mu sebagai Ayahku. Hampir selama 9 bulan aku berada dalam proses magang yang panjang di Lembaga Pers Mahasiswa Tegal Boto, dimana aku belajar banyak tentang hal-hal yang baru yang lebih menarik. Pada minggu ini, aku mencapai titik zenit dalam pencampain awal menjadi bagian dari mereka. Aku di terima oleh mereka setelah seleksi yang sangat ketat apalagi kalau bukan karena statusku sebagai mahasiswa ekstra. Pada awalnya memang ada ketakutan pada ku, karena aku di khawatirkan menjadi penyusup dan merusak organisasi Tegalboto, tapi aku berhasil meyakinkan semua pihak bahwa niatku bergabung dengan Tegalboto hanya untuk belajar dan menimba pengalaman. semua terjawab kini aku dipercaya sebagai REDAKTUT PELAKSANA DIVISI WACANA. Aku menjadi GmnI kedua yang dalam sejarah TegalBoto yang berhasil menembuh jajaran redaksi, kini aku resmi menyandang sebagai Wartawan Kampus meksi tulisanku banyak dicaci dan di maki tapi ini belajar . aku masih dalam proses menulis bagus. Mereka menerima ku bukan karena tulisanku yang bagus tapi karena mereka ingin aku merubah gerakan TB untuk lebih progresif.
Salam untuk mamahku dan adik-adikku. Sayangilah mereka!!!!
k

Tidak ada komentar:

Posting Komentar