Sabtu, 10 Maret 2012

Ketidak sepakatanku pada Feminisme


Melakukan kritik terhadap budaya populer. Joanne Hollows, dosen senior dalam kajian Media dan Budaya di Notingam Trent University, mengidentifikasi beberapa pendekatan feminis kunci terhadap budaya populer dari tahun 1960 sampai 1990. Melalui buku ini Joanne juga menunjukkan bagaimana hubungan antara feminisme, feminitas, dan budaya populer sering bermasalah satu sama lain. Pertentangan antara feminisme dengan feminitas karena feminitas dianggap memperlemah posisi dari feminisme, dinama kita semua sudah ketahui bahwa feminisme semacam gerakan politik sedangkan feminitas lebih bersifat keperempuanannya yang terjebak pada pemahaman seperti yang digambarkan pada buku The Feminine Mystique, Betty Friedan yang secara langsung mencitrakan perempuan dalam pandangan tradisional yang menyatakan bahwa “ nilai tertinggi dan satu-satunya komitmen bagi perempuan adalah pemenuhan feminitas, usaha untuk memenuhi ‘potensi feminim’ mereka menyebabkan banyak gejala-  perasaan gagal, ketiadaan. Perempuan tidak lagi merasakan identitas dirinya sendiri karena didorong untuk memandang diri mereka sendiri hanya sebagai seorang istri atau seorang ibu. Kaum feminis jelas menolak hal tersebut, upaya yang dilakukan untuk mengubah hubungan kekuasaan antara laki-laki dalam berbagai isu akhirnya dapat menjadi “sia-sia” karena perempuan terlalu terjebak oleh pencitraan-pencitraan yang berkembang dalam masyrakat. Budaya populer memiliki peranananya dalam proses pencitraan ini. Joanne memperkenalkan gagasan utama tentang feminisme gelombang kedua dan feminisme cultural studies, kemudian memaparkan perdebatan kalangan feminis dalam mendekati budaya populer pada beberapa kasus kajian: film perempuan, fiki romantis, opera sabun, budya konsumsi danmaterial, praktik fashion dan kecantikan; juga budaya anak muda dan musik pop. Sebelum melihat lebih jauh perdebatan feminis terhadap budaya populer Joanne menggaris bawahi bahwa identitas feminisme merupakan produk dari konteks historis tertentu  [AA1] .
Media khususnya Televisi memiliki peranan penting dalam proses pencitraan itu,  sulit disanggah bahwa televise merupakan media yang paling banyak diakses oleh warga, jauh diatas media-media lain seperti Koran, radio, dan buku. Dari hasil-hasil dan analisis tentang perempuan dalam layar kaca yang berperspektif gender selama ini menyimpulkan bahwa sebagian besar tayangan perempuan dalam berbagai acara mampu mengkonstruk cara pandang perempuan dalam memandang feminitas. Akibat dari peran-peran media dalam proses pencitraan tradisional yang dijelaskan the feminime mystique, perempuan telah dibatasi oleh media, sehingga gerakan perempuan tidak leluasa sebagai contohnya saja perempuan diindentikan dengan pekerjaan rumah tangga, melayani suami dan menjadi ibu yang baik.
Dalam perkembangannya televisi dijadikan wadah untuk menampilkan film-film.   Kritik feminis pada kasus film perempuan misalnya. Bagaimana film-film diproduksi dan menempatkan perempuan sebagai objek. Keberadaan perempuan dinilai dari sejauh mana dia tampil dengan watak femininitas yang ditonjolkan. Demikian pula fiksi romantis yang mereproduki budaya patriarki. Perempuan disuapi dengan cinta sejati. Fiksi romantic menawarkan mimpi-mimpi utopia akan dunia yang lebih baik. Fiksi romantis dinikmati sebagai fantasi yang mungkin perempuan alami kalau kebahagiaan memenuhi hubungan pencitraan. Fiksi romantic mampu mengkontruksi  pemahaman kaum perempuan sehingga terlena oleh kisah-kisah yang ditawarkan sehingga perempuan menjadi tidak sadar bahwa keberadaannya   Opera sabun yang membahayakan kesadaran politik perempuan. Praktik fashion dan kecantikan yang telah mendikte perempuan untuk diarahkan. Pada kutub yang lain, budaya anak muda serta musik pop, terus menerus memproduksi ilusi-ilusi tentang kebahagiaan, kesedihan, dan aneka macam bentuk budaya yang menghilangkan kreatifitas.

 [AA1]Ngutip, maksudnya apa ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar