Melakukan kritik terhadap budaya
populer. Joanne Hollows, dosen senior dalam kajian Media dan Budaya di Notingam
Trent University, mengidentifikasi beberapa pendekatan feminis kunci terhadap
budaya populer dari tahun 1960 sampai 1990. Melalui buku ini Joanne juga
menunjukkan bagaimana hubungan antara feminisme, feminitas, dan budaya populer
sering bermasalah satu sama lain. Pertentangan antara feminisme dengan
feminitas karena feminitas dianggap memperlemah posisi dari feminisme, dinama
kita semua sudah ketahui bahwa feminisme semacam gerakan politik sedangkan
feminitas lebih bersifat keperempuanannya yang terjebak pada pemahaman seperti
yang digambarkan pada buku The Feminine Mystique, Betty Friedan yang secara langsung mencitrakan perempuan dalam pandangan
tradisional yang menyatakan bahwa “ nilai tertinggi dan satu-satunya komitmen
bagi perempuan adalah pemenuhan feminitas, usaha untuk memenuhi ‘potensi
feminim’ mereka menyebabkan banyak gejala-
perasaan gagal, ketiadaan. Perempuan tidak lagi merasakan identitas
dirinya sendiri karena didorong untuk memandang diri mereka sendiri hanya
sebagai seorang istri atau seorang ibu. Kaum feminis jelas menolak hal
tersebut, upaya yang dilakukan untuk mengubah hubungan kekuasaan antara
laki-laki dalam berbagai isu akhirnya dapat menjadi “sia-sia” karena perempuan
terlalu terjebak oleh pencitraan-pencitraan yang berkembang dalam masyrakat.
Budaya populer memiliki peranananya dalam proses pencitraan ini. Joanne
memperkenalkan gagasan utama tentang feminisme gelombang kedua dan feminisme
cultural studies, kemudian memaparkan perdebatan kalangan feminis dalam
mendekati budaya populer pada beberapa kasus kajian: film perempuan, fiki
romantis, opera sabun, budya konsumsi danmaterial, praktik fashion dan
kecantikan; juga budaya anak muda dan musik pop. Sebelum melihat lebih jauh perdebatan
feminis terhadap budaya populer Joanne menggaris bawahi bahwa identitas
feminisme merupakan produk dari konteks historis tertentu [AA1] .
Media khususnya Televisi memiliki
peranan penting dalam proses pencitraan itu,
sulit disanggah bahwa televise merupakan media yang paling banyak
diakses oleh warga, jauh diatas media-media lain seperti Koran, radio, dan
buku. Dari hasil-hasil dan analisis tentang perempuan dalam layar kaca yang
berperspektif gender selama ini menyimpulkan bahwa sebagian besar tayangan
perempuan dalam berbagai acara mampu mengkonstruk cara pandang perempuan dalam
memandang feminitas. Akibat dari peran-peran media dalam proses pencitraan
tradisional yang dijelaskan the feminime mystique, perempuan telah dibatasi
oleh media, sehingga gerakan perempuan tidak leluasa sebagai contohnya saja
perempuan diindentikan dengan pekerjaan rumah tangga, melayani suami dan
menjadi ibu yang baik.
Dalam perkembangannya televisi
dijadikan wadah untuk menampilkan film-film.
Kritik feminis pada kasus film perempuan misalnya. Bagaimana film-film
diproduksi dan menempatkan perempuan sebagai objek. Keberadaan perempuan
dinilai dari sejauh mana dia tampil dengan watak femininitas yang ditonjolkan.
Demikian pula fiksi romantis yang mereproduki budaya patriarki. Perempuan
disuapi dengan cinta sejati. Fiksi romantic menawarkan mimpi-mimpi utopia akan
dunia yang lebih baik. Fiksi romantis dinikmati sebagai fantasi yang mungkin
perempuan alami kalau kebahagiaan memenuhi hubungan pencitraan. Fiksi romantic
mampu mengkontruksi pemahaman kaum
perempuan sehingga terlena oleh kisah-kisah yang ditawarkan sehingga perempuan
menjadi tidak sadar bahwa keberadaannya
Opera sabun yang membahayakan kesadaran politik perempuan. Praktik
fashion dan kecantikan yang telah mendikte perempuan untuk diarahkan. Pada
kutub yang lain, budaya anak muda serta musik pop, terus menerus memproduksi
ilusi-ilusi tentang kebahagiaan, kesedihan, dan aneka macam bentuk budaya yang
menghilangkan kreatifitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar