“Kenapa aku
dilahirkan ke dunia jika di dunia ini aku identik dengan caci maki dan
hinaan?”. Itu pertanyaan pertama yang
ingin aku Tanya pada sang penciptaku. Entah apa yang salah denganku ketika
banyak orang dengan mudahnya memandang ku sebagai bagian dari “kehinaan”. Terlalu parahkan labelingnya? Aku rasa itu
tidak, karena menjadi keseharianku yang biasa ku terima. Kata-kata si Banci,
bencong atau ejekan-ejekan sarkas sudah
biasa mengaung-gaung digendang telingaku.
Nama asliku
Dofir, laki-laki satu-satunya dari empat saudara perempuan. Tetapi sejak kecil
aku ingin menjadi sosok yang lainnya, tidak sama dengan laki-laki lainnya
disekitar lingkungan rumahku. Aku merasa lebih seperti kakak perempuanku, aku
lebih nyaman ketika bermain boneka atau aku lebih suka membantu ibu memasak di
dapur daripada aku bermain sepak bola atau bermain sepedah mencari burung di gumuk depan rumah. Bukan itu yang biasa
ku lakukan, itu bukan permainanku, meski lazimnya laki-laki yang katanya tulen memainkan hal-hal itu tapi
sekali lagi aku tidak suka, benar-benar tidak nyaman. Lalu pada hari ini ketika
hari terus berganti, tahun pun berganti semua berganti dan waktu tetap
bergeming untuk membawaku pada posisi yang diperlakukan secara memanusiakan
manusia. Keadaan menjadi lebih parah, stigma masyarakat tentangku terlalu
sinis, lalu apa yang salah dengan ku? Apa aku salah ketika kelaki-lakian ku
harus tersisihkan dengan sisi feminisku? Apa itu salah? Lalu siapa yang berhak
menyalahkan atau membenarkan? Aku rasa tidak ada. Tidak ada yang berhak untuk
menilai dengan pandangan yang begitu sempitnya dengan standarisasi benar dan
salah, hitam dan putih, berisi dan kosong.
Sudah beranjak
pada masa-masa dimana aku semakin bimbang memilih. Sepertinya Tuhan menakdirkan
aku dengan cara yang tidak tepat.
Badanku laki-laki yang kekar, sedangkan jiwa ku terlalu lembut jika
harus disamakan dengan kain sutera Cina. Kini, aku mencoba untuk menjadi diriku
sendiri ditengah kondisi yang tidak tepat atau bahasa lainnya soal tubuhku yang
laki-laki ini. Jauh lebih baik dan sangat mewakili kepribadianku jika aku
dipanggil Firda. Nama yang identik dengan perempuan. Itulah diriku, yang tidak
ingin tunduk pada norma-norma yang dimaknai secara parsial yang merendahkan
manusia yang juga sama-sama terlahir dari rahim seorang ibu. Terlalu lama aku
terbelenggu ditengah kebiasaan-kebiasaan itu yang pada akhirnya aku harus
menjadi munafik. Tidak menjadi diri sendiri, aku juga ingin merasakan bagaimana
merasakan menjadi Firda yang sesungguhnya
dengan bedak, lipstick atau hotpens, tanpa harus takut dicibir oleh
tentangga. Aku juga menjadi diri sendiri berkerja di salon atau di butik,
tempat dimana kawan-kawan yang dimarjinalkan seperti aku ini berkerja.
Apa daya,
harapan hanya sekedar harapan. Berharap untuk menjadi diri sendiri sangat sulit
sekali kulakukan. Dari hal pendidikan saja
aku tidak terlalu tinggi dalam
berproses, hanya SMA . Itu pun dengan kondisi yang terseok-seok. Kondisi keluargaku tidak terlalu baik soal
ekonomi, yang pada akhirnya aku harus banyak menahan diri untuk merealisikan
cita-citaku. Hal itulah yang mendorongku untuk berkerja dengan cara dan
kemampuan yang ku punya. Apalagi kalau buka tenaga, sebab orang miskin itu
hanya punya tenaga yang tidak ada hentinya. Jika memang pendidikan tidak menunjang.
Ya, apalagi kalau bukan menjadi buruh kasar dalam setiap proyek-proyek
pembangunan. Meski banyak orang mengatakan aku ini bencong, tetapi bukan berarti aku ini lemah. Aku masih bisa mencari
rumput untuk ternak milik pak haji, atau aku terbiasa pula mengankat-angkat
pasir, mengaduk adonan semen atau apalah itu yang juga dilakukan oleh laki-laki
tulen. Semua kulakukan atas dasar kebutuhan ekonomi yang mendesak. Tidak
mungkin hanya karena egoku dengan lebih condong sisi kewanitaanya aku tidak
bisa berbuat sesuatu untuk keluargaku yang menjadi benteng terkuatku ditengah
cibiran masyarakat yang sok tau itu.
Meksi aku
berkerja kasar tetapi tetap saja aku adalah Firda yang berlajar menjadi diri
sendiri, meski badanku kekar, kulitku legam tapi aku tetap percaya diri dengan
bedak yang tebal, bibir yang merah merona dan bubuk-bubuk putih yang ku usapkan
disekujur tubuhku, kulalukan itu agar dapat mengurangi kelegaman kulitku. Tanpa
sadar, ketika aku melihat cermin, memang benar pendapat orang-orang dijalanan ketika
malam hari, ketika aku melakukan perkerjaan sambilanku yaitu mengamen, bahwa
aku memang begitu menakutkan, seperti dakocan.
Tapi tak peduli dengan itu semua aku lebih suka kondisiku saat ini dimana aku
sudah beranjak pada ketitik nol-an ku. Menjadi manusia yang dimarjinalkan
masyarakat tetapi tetap percaya diri.
Malam hari
memang menjadi sahabat setiaku, ketika siang aku harus bersahabat dengan
peluh-peluh yang berkucuran, tapi dimalam hari aku mengakbrabi jalanan dengan
memaksimalkan suara pas-pasanku . Lumayanlah untuk beli bedak dan keperluan
kewanitaanku. Dari mana lagi aku harus memenuhi kebutuhan domestiku. Upah yang
kudapat disiang hari aku berikan pada ibu untuk bantu-bantu keuangan
keluargaku. Adik-adikku banyak dan aku harus bertanggung jawab dengan mereka,
jangan sampai mereka merasakan kesedihan yang terlalu mengakrabiku. Cukuplah
aku. Biarkan aku yang pada akhirnya dibuat kuat oleh kekejaman itu sendiri.
Biarkan aku bersahabat dengan kegetiran agar aku benar-benar menjadi diri
sendiri. Terlalu capek aku menjadi munafik. Aku adalah seorang transsexual,
tapi bukan berarti aku sangat murahan dengan melacurkan mulutku untuk memenuhi nafsu
laki-laki normal itu. Perkejaan kasar jauh lebih baik, mengamen juga sebagai salah satu solusi tambahan untuk mengatasi permasalahan keuanganku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar